Prof. Mas’ud Said, Ketua ISNU Jatim, bersama sahabatnya, M. Yunus asal Sidoarjo

Sidoarjo | JATIMONLINE.NET,- ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) usianya memang baru “seumur jagung”. Berdiri pada tahun 2012 silam. Diresmikan saat Muktamar NU yang ke-32 di Makasar Tahun 2010.

Meski sebagai Banom (Badan Otonom) NU isinya adalah yang paling muda, namun keberadaan ISNU sungguh sangat dibutuhkan bagi NU, utamanya untuk ikut berkontribusi membangun SDM (Sumber Daya Manusia) warga NU.

Hingga ditahun 2018, ISNU mempunyai 362 guru besar dari berbagai disiplin ilmu yang masuk di kepengurusan ISNU. Selain itu, ada 2900 an doktor yang masuk ISNU. Sedangkan yang S1 dan S2 lebih banyak lagi.

Prof. Mas’ud Said, Ketua ISNU Jawa Timur, saat dikonfirmasi menerangkan bahwa NU itu gudangnya sarjana. Sambil mengutip istilah Nurkholis Majid tokoh cendikiawan muslim Indonesia, Prof. Mas’ud Said menyebut saat ini NU panen sarjana.

Panen profesor, panen doktor, panen profesional, panen lulusan pesantren timur tengah maupun pesantren yang lainnya.

Prof. M. Mas’ud Said dalam satu acara

Karenanya, kalau ditanya kontribusi ISNU terhadap NU, tentu saja ISNU berkontribusi terhadap peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) bagi warga NU. “Dimana ada kemajuan di NU, maka di situ ada ISNU. Itu sudah menjadi dalil. Karena ISNU menjadi lembaga berkumpulnya para intelektual NU, para cendikiawan NU. Karena itu kedepan ISNU diharapakan semakin berperan, menjadi motor pembangunan SDM warga NU,” ujar Prof. Mas’ud Said.

Dibanding dengan Banom yang lain, peran ISNU memang agak berbeda. ISNU memang jarang sekali muncul kepermukaan menghiasi panggung-panggung media. Namun meskipun begitu, keberadaan NU sangatlah penting dan dibutuhkan.

ISNU, meski sebagai Banom yang usinya muda, kontribusinya untuk NU tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Salah satu kontribusi ISNU itu, lanjut Prof. Mas’ud, adalah di bidang pemikiran, di bidang pemerintahan dan bidang kemandirian usaha. Di kampus kampus. “Di NU itu punya ratusan kampus. Nah tentu disitu ada anak ISNUnya. Disitulah ISNU bisa memberikan kontribusi,” tuturnya.

Sebagai Banom yang bergerak dibidang pemikiran, Tantu saja corak pemikiran ISNU merupakan kepanjangan tangan dari pemikiran NU. ISNU misalnya, terkait dengan maraknya ideologi trans nasional, ikut berjuang mengejawantahkan pemikiran wasathiyah, sebagaimana yang dulu diperjuangkan Gus Dur.

Wasathiyah itu, kata Prof. Mas’ud adalah pemikiran yang tidak ekstrem kanan maupun ekstrim kiri. “Wasathiyah itu artinya di tengah-tengah. Tidak anti negara, bisa menerima agama lain meski secara aqidah tidak harus mengikuti mereka,” terangnya. (mnr).