Protes Pengaspalan Hotmix, Warga Cekcok dengan Petugas Proyek di Pamekasan

  • Bagikan
Kondisi jalan di Desa Sana Daja, Kecamatan Pasean, setelah dilakukan pengaspalan hotmix

Pamekasan | JATIMONLINE.NET – Warga Desa Sana Daja, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, memprotes proyek pengaspalan hotmix, lantaran dalam proses pengerjaannya diduga dikerjakan secara asal-asalan. Temuan warga ketebalan aspal tidak seperti jalan pada umumnya.

Protes yang disampaikan memicu cekcek dengan petugas proyek setelah warga memberanikan diri mengkritik seputar ketebalan proyek pada bagian jalan tanjakan yang masih tampak bencolan tanah. Padahal sebelumnya warga sudah meminta agar pengerjaan proyek benar-benar diperhatikan kualitasnya.

Ketua Pemuda Sorren-Gayam Ahmad Surahman jadi saksi percekcokan warga dengan petugas proyek. Sebab bagi dia merupakan hal yang wajar warga mempertanyakan keberadaan kualitas proyek. Karena jalan akan digunakan dalam jangka panjang, bukan hanya sementara.

“Suatu ketika memang ada petugas proyek yang mengakui bahwa material aspal sudah menakar, dan tidak akan bertahan lama jika masih digunakan. Namun nyatanya material aspal tetap digunakan,” kata Ahmad kepada Jatimonline.net, Rabu (30/12).

Ahmad menyampaikan kondisi infrastruktur jalan sebelum pengaspalan hotmix, rusaknya sangat begitu parah dengan perkiraan kurang lebih 20 tahun tak diperhatikan pemerintah. Akibatnya akses jalan terhambat, baik saat musim hujan maupun kemarau.

“Kami warga di sini hanya meminta agar kualitas proyek bisa sedikit diperhatikan. Sebab melihat kondisi jalan sebelum di aspal, parahnya sudah cukup membuat warga tidak bisa bergerak bebas. Dari itu sekali di aspal, tolonglah kualitasnya bisa dimaksimalkan,” ungkapnya.

Ahmad tidak mengetahui pemilik proyek, sebab setelah diperhatikan, pihaknya tidak menemukan adanya papan informasi yang mengumumkan identitas proyek. Hanya kendaraan mobil dan seragam yang dikenakan tampak bertuliskan ‘PT. Promo Jawa Mix’.

Anehnya, tanya Ahmad, dari kondisi jalan pedalaman tersebut, apakah tidak ada pengawas khusus dari pemerintah desa, meski hanya sebatas menyampaikan saran dan imbauan agar pengerjaan proyek bisa bertahan lama dengan memerhatikan kadar kualitas.

“Kalau dibiarkan tidak pura-pura diawasi, tender proyek justru akan seenaknya menggarap,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Pamekasan Ismail menyarankan agar pelaksana dapat memperhatikan kualitas proyek, sebagaimana petunjuk rencana anggaran biaya (RAB). Meski demikian, ia memastikan akhir tahun, semua pengerjaan proyek pengaspalan akan dilakukan inspeksi mendadak (sidak).

“Jika ada temuan dari dewan yang tidak sesuai, tentu akan kami rekomendasikan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk membongkar ulang,” singkatnya. (rus)

  • Bagikan