Pasuruan | JATIMONLINE.NET,- Matahari mulai meninggi di atas hamparan Tanah Kas Desa (TKD) seluas tiga hektar di Desa Winong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Angin berhembus membawa aroma tanah basah, menyelinap di antara dedaunan hijau yang rimbun. Di petak lahan seluas 8.000 meter persegi itu, belasan ribu pohon melon jenis Amanda merambat rapi. Buah-buahnya yang bundar sempurna tampak menggantung kokoh, menunggu masa petik di usia 65 hari.

Pemandangan asri nan menjanjikan ini seolah menghapus memori kelam yang sempat menghantui warga. Belum lama berselang, lahan yang sama pernah menjadi saksi bisu sebuah kegagalan yang cukup memukul asa.

Bayang-Bayang “Puret” di Tanah Berbatu

Amiril Mukminin, Kepala Desa Winong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan
Amiril Mukminin, Kepala Desa Winong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan

Bagi Amiril Mukminin, Kepala Desa Winong, melihat kebun melon saat ini adalah sebuah kelegaan yang tak terlukiskan. Pria yang dulunya merupakan seorang prajurit Babinsa ini mengingat betul bagaimana dada ini terasa sesak saat melihat hasil panen perdana BUMDES Lenong Jaya Makmur (LEJAMA) jauh dari kata memuaskan.

“Sempat merasa khawatir,” kenang Amiril, anak bungsu dari enam bersaudara ini. Tatapannya menerawang, mengingat buah melon dari masa lalu. “Apalagi pengalaman budidaya pertama itu buahnya kecil-kecil, puret kata orang Jawa.”

Kegagalan itu bukan sekadar soal ukuran buah, melainkan hantaman keras bagi kas BUMDES. Dari modal awal yang digelontorkan begitu besar, yakni sekitar Rp150 juta hingga Rp170 juta, hasil yang kembali ke kantong BUMDES hanya tersisa Rp24 juta. Sebuah pukulan telak yang bisa saja membuat siapa pun menyerah dan enggan bertani lagi. Namun, menyerah bukanlah pilihan bagi Desa Winong.

Dua “Dokter Tanah” dan Resep Angin

Sudirman
Sudirman

Menyadari bahwa semangat saja tidak cukup untuk menaklukkan lahan pelik, BUMDES LEJAMA mengambil langkah berani. Mereka menurunkan ego dan mendatangkan dua tenaga ahli dari luar desa, Sudirman dan Darlan, untuk berkolaborasi dengan empat petani lokal.

Dua pria ini bukanlah nama sembarangan. Mereka telah malang melintang menundukkan tanah sejak tahun 1999, berpengalaman menanam garbis hingga timun mas. Di mata Sudirman dan Darlan, lahan Winong bagaikan pasien yang butuh diagnosa akurat. Mereka langsung menemukan akar masalahnya: kontur tanah yang kurang tinggi, dipenuhi bebatuan, serta sirkulasi udara yang mati.

Lahan BUMDES tersebut dikelilingi oleh tembok-tembok pabrik yang menjulang. Padahal, bagi tanaman melon, angin yang bebas hambatan adalah napas pertumbuhan.

“Melon itu butuh angin yang tidak terhalang. Yang ditanam dekat tembok pabrik, pertumbuhan buahnya pasti kurang maksimal,” ujar sang ahli. Mereka pun meresepkan jarak aman: minimal harus ada ruang tiga meter antara tanaman dengan pondok atau tembok pembatas.

Lebih dari sekadar jarak tanam, perawatan melon adalah tentang dedikasi penuh. Melon sangat sensitif. Pengamatan harus dilakukan setiap hari, tidak bisa disambi saat waktu senggang saja. Kebutuhan pupuk pun harus diracik berdasarkan kondisi nyata di lapangan hari itu. Jika petani hanya mengandalkan rutinitas jadwal pemupukan tanpa melihat kondisi tanaman, risikonya justru fatal; buah bisa rusak dan tidak tumbuh maksimal.

Meja Manajemen yang Terang Benderang

Direktur BUMDES LEJAMA, Ririk Fidyaningsih
Direktur BUMDES LEJAMA, Ririk Fidyaningsih

Di saat para ahli membenahi akar dan daun di lapangan, sebuah revolusi tak kalah penting terjadi di balik meja manajemen. BUMDES LEJAMA menjadi penerima manfaat Program Development Efficient Food Agriculture (DEFA), sebuah inisiatif mulia hasil kolaborasi PT HM Sampoerna Tbk dan Social Transformation and Public Awareness Center (STAPA Center).

Direktur BUMDES LEJAMA, Ririk Fidyaningsih, menceritakan bagaimana program ini menjadi titik balik tata kelola mereka. “Di awal, jajaran pengurus, baik direktur, sekretaris, maupun bendahara, masih sangat minim pengetahuan tentang manajerial, tata kelola badan usaha, hingga cara memasarkan produk,” ungkapnya.

Melalui program local upgrading, STAPA Center membuka wawasan mereka. Para pengurus diajarkan standar akuntansi pemerintahan yang membuat pembukuan menjadi transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Bagi Bendahara BUMDES LEJAMA, Fatkhur Rokhman, pelatihan ini bukan sekadar teori, melainkan sebuah pencerahan yang nyata.

“Hasil pelatihan yang dilakukan oleh STAPA Center melalui Program DEFA ini sangat membantu. Manajemen BUMDES kami akhirnya bisa tertata dengan baik,” ungkap Fatkhur.

Fatkhur membagikan satu momen penting yang menjadi pelajaran paling berharga bagi timnya. Saat itu, program DEFA sengaja mendatangkan perwakilan dari BUMDES besar yang telah terbukti sukses, yakni BUMDES dari Desa Ketapanrame, Mojokerto, pengelola Taman Ganjaran dan beberapa objek wisata yang ada di Ketapanrame.

“Saat itu mereka berbagi banyak sekali tips dan pengalaman riil di lapangan. Kami belajar bagaimana tata kelola keuangan BUMDES itu bisa berjalan optimal, profesional, dan yang paling penting, dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Fatkhur dengan penuh semangat.

Bendahara BUMDES LEJAMA, Fatkhur Rokhman
Bendahara BUMDES LEJAMA, Fatkhur Rokhman

Tidak berhenti di situ, forum pelatihan tersebut juga menjadi ruang temu antar-BUMDES se-Kabupaten Pasuruan. Kesempatan ini dimanfaatkan betul oleh pengurus BUMDES LEJAMA untuk saling bertukar pikiran, menyerap ilmu dari sesama pengurus desa lain, dan menyadari bahwa mereka memiliki jaringan kuat untuk saling mendukung. Hasil dari ilmu dan efisiensi ini langsung terlihat; jika pada budidaya pertama modal membengkak hingga ratusan juta, pada penanaman kedua ini modal bisa ditekan efisien di angka Rp70 juta.

Mengawinkan Ilmu dan Tunas yang Baru

Selain keuangan, pengurus BUMDES juga digembleng menghadapi era digital. Mereka yang sebelumnya awam, kini diajarkan membuat video promosi, merancang flyer digital, hingga menyusun Business Model Canvas (BMC) untuk memetakan pemasaran secara mandiri.

Program local upgrading ini sukses menjadi wadah bagi pengurus BUMDES dan KDMP (Kawasan Desa Membangun Partisipatif) untuk duduk bersama, berkolaborasi, dan mengidentifikasi kebutuhan riil di lapangan. Mereka belajar menyusun rencana kerja dan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan disiplin. Ruang-ruang diskusi yang difasilitasi mendekatkan teori di atas kertas dengan kerasnya realita di ladang.

Manisnya Grade A di Ujung Penantian

Kini, perpaduan antara manajemen keuangan yang sehat, taktik pemasaran digital, dan tangan dingin para ahli pertanian itu mulai menunjukkan hasil. Di kebun, strategi membatasi pertumbuhan buah, yang hanya menyisakan dua hingga tiga buah per pohon dari total 11.000 pohon, berhasil menciptakan keajaiban.

Hasilnya luar biasa. Buah melon yang dulunya “puret”, kini tumbuh besar dan montok dengan berat mencapai satu hingga tiga kilogram per buahnya. Melihat jerih payah warganya membuahkan hasil, Kepala Desa Winong, Amiril Mukminin, tak lagi menyembunyikan senyumnya. Sosok yang sempat dihantui kecemasan pada panen pertama itu kini bisa bernapas lega.

“Alhamdulillah, sekarang hasilnya memuaskan, besar-besar. Bahkan bisa dipilah-pilah mulai dari Grade A sampai Grade C,” tutur sang Kepala Desa dengan nada bangga.

Pada panen awal buah masak di pohon, mereka langsung meraup tiga ton. Yang paling menggembirakan, lebih dari separuh hasil panen tersebut sukses menembus kualitas Grade A.

Udara panas di sekitar kawasan pabrik Gempol kini tak lagi terasa membakar, melainkan membawa kehangatan harapan. Dari tanah berbatu di balik tembok pabrik, BUMDES LEJAMA telah membuktikan bahwa dengan kemauan untuk belajar, manajemen yang transparan, dan sinergi yang tulus, pahitnya kegagalan selalu bisa diubah menjadi panen raya yang manis. (uzi/min)