Berdampak Pencemaran Udara, Pupuk Cair Berbau Menyengat Mengganggu Lingkungan Dan Resahkan Warga

  • Bagikan
Salah satu mobil tangki pembawa pupuk cair yang baunya menyengat

Pasuruan | JATIMONLINE.NET,- Seperti sudah dapat diduga, setiap kali musim tanam jagung tiba, bisa dipastikan mobil tangki pengangkut pupuk cair berbau menyengat lalu lalang disekitar jalan raya Wonorejo, Pasuruan. Juga jalan raya Rembang, Pasuruan.

Maklumlah, pada saat musim tanam jagung itu, beberapa petani yang mempunyai lahan atau sawah agak luas, seringkali memakai pupuk cair yang baunya menyengat itu.

Soal Bau menyengat itu, menurut penelusuran media ini, ada dua kategori. Yang satu baunya seperti bau tetes tebu, tetapi dipadu bau kotoran ternak yang begitu menyengat, sangat mengganggu pernafasan bagi setiap pemakai jalan yang ketepatan lewat disekitar area sawah yang menggunakan pupuk cair tersebut.

Dan yang satunya, baunya “hangat” tinja atau kotoran manusia. Untuk kategori yang satu ini, baunya sangat menusuk pernapasan. Diperkirakan, hingga durasi 600 meter pasca berpapasan maupun dibelakang mobil tangki pengangkut tinja itu, bau busuk kotoran manusia masih “hangat” menusuk hidung.

Diduga, bau busuk kotoran manusia atau tinja itu dipergunakan oleh perusahaan tertentu untuk dijadikan pupuk cair, yang dijual ke petani untuk tanam jagung.

Pernah sekali, wartawan media ini mengetahui, salah satu mobil Tangki pengangkut tinja itu berhenti untuk memuntahkan isinya, memupuk disalah satu sawah, untuk dijadikan pupuk cair. Memang tidak bisa membuktikan dari bentuk fisiknya, tetapi bau menusuk hidung khas aroma kotoran manusia itu memang sulit dipungkiri.

Sejumlah warga masyarakat yang sempat merasakan dampak bau menyengat tinja disekitar jalan raya Wonorejo itu membenarkan kalau tinja itu dijadikan pupuk cair untuk tanaman jagung bagi petani di sekitar Wonorejo.

H. Muid, warga Desa Cobanblimbing, Wonorejo yang juga merasakan dampak bau saat sering berpapasan dengan mobil tangki pengangkut tinja tersebut menyesalkan, kenapa Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan kok tidak mengetahuinya.

“Fenomena mobil tangki pengangkut tinja yang berlalu lalang disekitar jalan raya Wonorejo itu meresahkan warga masyarakat disekitarnya. Meskipun warga masyarakat yang ketepatan menerima dampak baunya itu tidak tahu harus mengadu kemana,” terang H. Muid.

Mobil Tangki pengangkut pupuk cair yang bau menyengat

Soal dua kategori bau menyengat pupuk cair untuk tanam jagung yang berlaku lalang disekitar jalan raya Wonorejo dan sekitarnya itu juga dibenarkan oleh Widodo Retnawan Atmojo, Penyuluh Pertanian di Pusat Informasi dan Promosi Agribisnis (PIPA) Kecamatan Wonorejo.

Menurut Penyuluh Pertanian yang akrab disapa Widodo ini, seharusnya, yang masuk kategori pupuk cair jadi, itu yang sudah tidak berbau.

“Saya juga sempat mendapati laporan dari salah satu petani binaan kami, kalau ada dua perusahaan pupuk cair di Pasuruan ini, yang satunya mengelola limbah menjadi pupuk itu telah diproses dengan menghilangkan bau menyengatnya. Dan yang satunya memang dengan memakai tinja atau kotoran manusia,” cerita Widodo.

Soal adanya mobil Tangki pengangkut tinja itu, Widodo juga membenarkan karena ia juga pernah berpapasan dengan mobil Tangki tersebut ketika ada dijalan raya Wonorejo.

Ciri-Ciri Pupuk Cair Yang Jadi, Itu Tidak Berbau

Widodo Retnawan Atmojo, Penyuluh Pertanian PIPA Kecamatan Wonorejo

Menurut Widodo, salah satu ciri pupuk organik yang sudah jadi itu adalah bau menyengatnya sudah tidak ada. Jika pupuk itu, lanjutnya, masih menyisakan bau menyengat, baik itu pupuk organik biasa maupun yang cair, itu berarti pupuknya belum jadi.

“Untuk kategori pupuk oganik yang belum jadi atau yang masih menyisahkan bau menyengat itu sebenarnya bisa saja digunakan untuk memupuk tanaman. Hanya saja kalau belum jadi, baunya itu mengganggu lingkungan. Dalam kategori tertentu sebenarnya itu termasuk bagian dari pencemaran udara atau lingkungan,” terangnya.

“Untuk menghilangkan bau menyengat dalam pupuk cair itu, menurutnya, dengan cara mengurainya dengan dekomposer dan bakteri pengurai. Jika sudah jadi, kalau pupuk biasa, itu ciri-cirinya seperti tanah, jika dipegang ngeprul. Disamping juga tidak ada baunya. Begitu juga dengan pupuk cair, dengan oroses yang sama, kalau pupuk cair itu sudah jadi, maka baunya akan hilang. Namun kalau pupuk cair itu harus menunggu diproses dulu supaya baunya hilang, itu butuh waktu. Dan yang begitu tentu tidak efektif untuk bisnis. Maka yang terjadi adalah demikian. Tinja itu setelah diberi campuran, langsung dibawa dalam keadaan baunya masih menyengat. Maka yang demikian itu sebenarnya menggangu lingkungan. Meski sebenarnya tinja itu juga bisa digunakan untuk pupuk tanaman,” terang Widodo.

Widodo memberi kesimpulan, pupuk cair yang beredar disekitar Wonorejo dan sekitarnya itu, ada dua kategori. Yang pertama adalah limbah pabrik yang diolah menjadi pupuk cair dan yang kedua adalah kotoran manusia.

Kepada wartawan media ini, Widodo menyarankan supaya melakukan investigasi untuk mengetahui kepastian soal pupuk cair yang mulai meresahkan warga masyarakat itu. Namun dia juga memakluminya, untuk melakukan investigasi itu bukanlah persoalan mudah, mengingat bau busuk yang menyengat, menggangu pernafasan.
Mnr (bersambung).

  • Bagikan