Dianugerahi Sebagai Pahlawan Ketahanan Pangan, Petani Kenep, Beji Pasuruan Ini Merasa “Diuwongke”
Pasuruan | JATIMONLINE.NET,- OBH YRPP (Organisasi Bantuan Hukum Yayasan Rumah Perempuan Pasuruan) & YARC (Yayasan Alam Rimba Center) bekerja sama dengan Relawan Kedai Alam Rimba menggelar acara Bhakti Untuk Negeri dalam Rangka memperingati Dirgahayu Hari Ulang Tahun kemerdekaan RI ke-80, bertempat di halaman Kantor YARC di Jl. Sumur Gemuling No.10 Kenep, Beji, Pasuruan.
Acara tersebut dihadiri sekitar 50 orang terdiri dari petani, aktivis PMII, relawan Kedai Alam Rimba dan tamu yang kebetulan ikut terapi kesehatan.
Bagi Ali Sodikin, petani itu komitmennya menjaga dan jasanya pada ketahanan pangan untuk negeri ini tidak diragukan Ali. Karena itu petani harus dianugerahi yang pantas sesuai dengan jasanya pada negeri ini.
“Jasa petani besar, dulu ikut berjuang merebut kemerdekaan, melawan tanam paksa penjajah, petani juga menjadi informan dan intelejen bagi gerilyawan zaman dulu, menjadi lumbung pangan para pejuang, dan menjadi tempat persembunyian para gerilyawan perang. Karena itu peran petani juga harus diingat di era perlawan mengusir penjajah,” terang Ali Sodikin
Diera sekarang ini, lanjut Ali Sodikin, peran petani jangan dianggap remeh. Jasa petani itu besar sekali. “Bayangkan kalau petani itu mogok tidak mau menanam, maka kita sepantasnya menghargai petani atas jasa jasanya yang besar untuk bangsa ini. Karena itu hari ini, kita memberi penganugerahan petani sebagai pahlawan ketahanan pangan,” jelas Ali Sodikin
Sementara itu, Abdul Kholik, petani asal Kenep, Beji, Pasuruan merasa berterima kasih adanya acara yang iselenggarakan oleh OBH YRPP & YARC tersebut. Gelar penganugerahan petani sebagai pahlawan ketahanan pangan yang diberikan kepada petani tersebut, ia sebagai petani merasa “diuwongke” (dihargai) profesinya sebagai petani.

“Kita tahu, bahwa profesi petani itu sangat diremehkan oleh banyak orang. Petani dianggap pekerjaan yang tidak menguntungkan dan miskin. Kalau pas lagi musim panen, harga jatuh. Pas lagi musim tanam, harga bibit mahal, harga Obat obatan pertanian juga mahal. Dan seterusnya,” jelas Abdul Kholik.
Karena itu, lanjutnya, dengan acara ini, media online ini bisa menjadi jembatan aspirasi petani sampai ke pemerintah Kabupaten Pasuruan. “Meskipun acaranya dikemas dengan sederhana, tapi makna dalam. Acara ini sangat berarti bagi kami. Kami berharap pemerintah bisa merespon problematika yang lagi dihadapi petani saat ini,” terang Abdul Kholik, yang sehari harinya bekerja sebagai petani jagung di Kenep, Beji, Pasuruan.
Abdul Kholik menambahkan, problem utama yang dihadapi petani di daerah Kenep, Beji saat iini adalah soal irigasi. Sebagai petani tadah hujan, tentu kebijakan pemerintah pada masalah irigasi sangatlah diharapkan. “Selama ini irigasi di daerah kami belum tersentuh dengan baik. Sehingga pas masa tanam yang ketiga, yaitu pas dimusim kemarau, para petani seringkali mengalami gagal panen. Atau kalau tidak gagal panen ya biaya perawatannya jadi membengkak,” terang Abdul Kholik.
Abdul Kholik menambahkan, pas lagi musim kemarau, terpaksa ia harus ngelep (meremdam air) sawahnya sampai 7 kali dalam masa tanam jagung yang ketiga. “Biaya satu kali ngelep sawah Rp 100 ribu, kali 7 kali berarti sudah sampai Rp 700 ribu. Itu belum termasuk biaya yang lainnya. Karena itu kami mohon supaya pemerintah memberi perhatian pada petani terutama soal irigasi,” harap Abdul Kholik. (mnr).


Tinggalkan Balasan