Pasar Lele Lesu, Achyadi, Petani Lele Di Rembang Pasuruan Belum Berani Tebar Benih

  • Bagikan
Achyadi bersama koleganya, Ali Sodikin sedang menunjukkan ikan lelenya

Pasuruan,- Bagi Achyadi, petani lele asal Desa Oro-Oro Ombo Kulon, Rembang, Pasuruan, ikan lelenya terjual sebagian saja ia sudah merasa bersyukur.

Dari hasi lele yang terjual itu Achyadi masih belum bisa mengkalkulasi apakah ia sudah mendapatkan keuntungan atau tidak.

Maklumlah, karena lele yang tersisa dikolam masih banyak jumlahnya. Sehingga ia masih belum bisa menghitung keuntungannya. Namun begitu ia tetap bersyukur karena masih ada yang mau membeli lelenya, satu Minggu menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Dari yang bisa terjual 1,4 ton itu, ikan lele yang tersisa dikolam diperkirakan masih 1,5 ton ukuran konsumsi dengan harga normal per kg Rp 16.000. sedangkan lele jumbonya dengan ujuran 1 ekor dengan bobot 4 – 5 kg itu, harga umumnya bisa mencapai Rp 20.000 per ekornya, masih tersisa sekitar 4 ton.

“Karena itu saya belum bisa mengkalkulasi keuntungannya karena isi ikan lele di kolam masih banyak. Nanti saya hitung sebagai keuntungan ya kalau ada yang beli. Sedangkan ikan-ikan itu juga kita masih membiayai,” jelasnya.

Seperti diketahui, untuk ikan lele yang ukuran jumbo, sejak era pandemi Corona itu, Achyadi tidak bisa menjualnya sama sekali. Sedangkan dihari normal,  lele jumbo itu penjualannya laris manis dengan keuntungan yang menggiurkan. Yadi, demikian panggilan akrabnya, biasanya menjualkan ke kolam-kolam pancing di Sidoarjo, dan beberapa juga di Malang.

Karenanya, Yadi masih belum berani menebar benih lagi. Namun demikian Yadi tidak trauma. Yadi tetap berharap keadaan ini segera normal dan dia bisa berusaha Budi daya lele lagi seperti semula.

Saat ini Yadi mengkonsentrasikan uangnya untuk usaha mengelola limbah botol air mineral.

Satu Minggu sebelum hari raya kemarin ikan lele Yadi dibeli oleh pengepul asal Probolinggo,  PT. Venanus, perusahaan yang bergerak di bidang jual beli ikan lele, patin dan ikan laut, dengan harga Rp 15.500 per kg nya. Beli 1,4 ton. Harga tersebut menurun dari harga biasanya, Rp 16.500 perkgnya,” terangnya.

Ikan lele ukuran jumbo. Bobotnya 1 ekor sekitar 4 – 5 kg. Biasanya dijual ke kolam pancing di Sidoarjo. Sejak era pandemi Yadi tidak bisa menjualnya lagi karena kolam pancingnya diobrak

Untuk 3 petak kolam biasanya Yadi menebar benih 9 kwintal. Dengan ukuran 100 cek. 100 cek itu artinya 1 kg benih isi 100 ekor. Untuk per 1 kwintal benih membutuhkan biaya pakan Rp 6.000.000. hingga masa panen (2- 3 bulan). Jumlah total biaya dengan benihnya Rp 8.600.000. Dengan estimasi tebar benih 1 kwintal panen 1 ton,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika harga lele per kgnya Rp 16.000 x 1 ton, maka Yadi mendapatkan keuntungan Rp 7 juta pertonnya. Sedang rata rata Yadi permasa tebar hingga panen bisa memanen hingga 6-7  ton, dengan sistem panen secara bertahap. Sungguh bisnis yang cukup menggiurkan. Namun itu jika pada posisi normal. Sedang pada posisi tidak normal seperti pada era pandemi ini Achyadi bisa pusing tujuh keliling untuk menjual ikan lelenya.

Hingga saat ini, Yadi belum bisa memprediksikan. Apakah 2-3 bulan kedepan pasar ikan lele prospeknya akan bagus. Karena itu dia memutuskan untuk tidak tebar benih dan fokus mencari pembeli ikan lelenya yang masih tersisa dikolam cukup banyak. (mnr).

  • Bagikan