Puncak Pandemi Di Bulan Puasa, pedagang Mebel Lebaran Gagal “Panen”

  • Bagikan
Sulaiman
Pemilik Toko Mebel Mitra Abadi

Pasuruan,- Hampir semua jenis usaha, pada puncak Pandemi Corona di bulan romadhon kemarin, bisa dipastikan mengalami kemunduran omset dalam penjualan. Itu bisa dimaklumi ketika itu pemerintah lagi giat-giatnya melakukan kampanye himbauan untuk berdiam diri di rumah, untuk memotong penyebaran virus Corona.

Tidak ketinggalan usaha mebel milik Sulaiman, warga Gempol, Pasuruan yang membuka usaha penjualan mebel Bernama Mebel Mitra Abadi, yang beralamat di Pasar Baru, Turen Cangkringmalang beji, Kabupaten Pasuruan.

Harapannya bisa “Penen besar” penjualan mebelnya pada puncak bulan puasa menjelang lebaran, gagal. Dirasakan Sulaiman, omset penjualan mebelnya pada era pandemi Corona kemarin menurun hingga 60 – 70 %.

“Biasanya puncak penjualan mebel itu ramainya di bulan puasa menjelang lebaran. Kalau hari-hari biasa itu bisa ada omset penjualan 60 juta- 80 juta perbulan. Sedangkan kalau bulan romadhon omset penjualan bisa mencapai Rp Rp 100 juta – Rp 125 juta perbulan. Sedangkan pada era pandemi kemarin menurun drastis hingga mencapai antara 60 – 70 %. Yaitu omset hanya sekitar Rp 45 juta perbulan di bulan Ramadhan kemarin,” tutur juragan mebel yang juga mantan ketua PMII Kediri, Jawa Timur ini.

Bagi pengusaha yang juga Ketua PC Badan Ansor Anti Narkotika (BAANAR) Bangil ini, menurunnya penjualan mebelnya saat bulan Ramadhan kemarin disebabkan masyarakat tidak berani membelanjakan uangnya untuk kebutuhan yang non primer seperti mebel. Kebutuhan untuk memenuhi persiapan lebaran, lanjutnya, lebih diutamakan oleh masyarakat.

“Karena itu penjualan mebel omsetnya menurun drastis. Meski kebutuhan sekunder, biasanya meja,kursi dan almari laris terjual di bulan ramadhan untuk memenuhi kebutuhan isi rumah. Namun sejak pandemi kemarin masyarakat berhemat dan tidak berani membelanjakan uangnya untuk kebutuhan mebel,” jelasnya.

Namun pasca lebaran ini, dirasakan oleh Sulaiman penjualan mebelnya mulai bergairah. Itu disebabkan karena sejak dihembuskannya kebijakan New Normal oleh pemerintah sehingga banyak orang sudah berani keluar dan melakukan aktifitas kerja.

Seperti biasa, untuk penjualan yang mulai laku pasca lebaran adalah jenis spring bed dan beberapa adalah almari.

“Diperkirakan hampir tiap hari ada saja orang belanja. Jika Ramadhan kemarin perharinya belum tentu ada orang belanja. Seprlerti biasa, jika pasca lebaran orang belanja spring bed karena setelah lebaran biasanya banyak orang hajatan atau akad nikah. Sehingga penjualan spering bed menjadi kebutuhan,” terangnya.

Dimasa Pandemi, Bank BUMN Tidak Berani Berikan Pinjaman Untuk UKM

Tampak aktifitas warga sudah mulai normal. Warga menyambut gembira kebijakan New Normal.
Foto diambil di perempatan jalan Gunung Gangsir, Beji, Pasuruan

Sejak pandemi Corona kemarin, menurut Sulaiman, kebijakan ekonomi dibawah itu ternyata tidak berpihak pada dunia usaha. “Contoh perbankkan. Sampai hari ini perbankkan masih menutup diri untuk mengeluarkan kredit terhadap UMKM. Dan itu saya alami sendiri. Saya buktikan sendiri di lapangan,” katanya bercerita.

Dan, lanjutnya, itu bisa dicek dilapangan karena ia sudah membuktikan itu. Beberapa bank plat merah yang tidak memberikan kredit masa pandemi itu adalah Bank Mandiri, Bank BNI dan Bank BRI.

“Bahkan sampai hari ini, tadi pagi saya ngajukan kredit di BRI ternyata juga di tolak. Ini sungguh ironi mengingat dunia usaha itu seharusnya bisa mempertahankan usahanya, salah satunya bisa survive itu ya dengan dukungan dana. Dan itu saya alami. Jadi saya ditolak mengajukan kredit itu bukan karena saya secara pribadi diplat merah tidak bisa mengajukan kredit, tetapi karena memang kebijakan bank masih belum berpihak pada dunia usaha,” jelasnya.

Menurutnya, himbauan pemerintah akan membantu masyarakat untuk meringankan dunia usaha menghadapi era pandemi itu tidak terjadi.

“Soal meringankan beban usaha terkait tanggungan di bank itu terjaga tidak terjadi. Yang terjadi tetap saja bunga berjalan. Bagi yang mempunyai kelonggaran restrukturisasi produk. Tapi restrukturisasi itu bukan berarti menghilangkan bunga. Hanya memperkecil nilai angsuran tetapi beresiko menambah jangkah waktu yang cukup lama. Hanya mengatur jangka waktu, tanpa sedikitpun mengurangi bunga,” jelasnya.

Karena itu Sulaiman berharap, dengan adanya New Normal ini semua bisa menjadi normal kembali, termasuk dunia usaha. (mnr).

  • Bagikan