Jumlah Terkonfirmasi Positif Covid-19 Sedikit, Warga Australia Tidak Diwajibkan Memakai Masker

  • Bagikan
Fitri Hariana Oktaviani (kanan) bersama keluarga, foto di depan Sidney Opera House

Australia,- Diceritakan oleh Fitri Hariana Oktaviani (38 thn), warga Nongko Jajar, Kabupaten Pasuruan, yang menyelesaikan program PhD (S3) di The University Of Queensland, Australia. Jatim Online berkesempatan wawancara dengan warga Pasuruan yang juga dosen komunikasi di UNIBRAW Malang yang kini tinggal di Brisbone, negara bagian Australia.

“Saya tinggal di Suburb St Lucia, Kota Brisbane negara bagian Queensland. Saya kandidat PhD di University Of Queensland Buaines School. Asisten dosen di Business School, sebagai asisten peneliti untuk School Of Health dan Rehabilitation Science, UQ,” kata Fitri, panggilan akrabnya, memulai pembicaraan.

Australia mempunyai wilayah yang sangat besar jika dibandingkan Indonesia. Namun, lanjutnya, Australia mempunyai kepadatan penduduk sangat rendah. Sebagian besar wilayah Australia tidak dihuni, dan berupa gurun. Juga sebagai lahan pertanian yang sangat luas.

Jadi, tambahnya, konsentrasi penduduk warga Australia itu ada di kota-kota Pantai Timur dan Pantai Barat Australia. Warga Pasuruan yang juga menyelesaikan S2-nya di The University Of Queensland, Australia (2010 – 2011) tersebut menambahkan.

Bahwa pada wilayah yang menjadi konsentrasi kepadatan penduduk itulah yang paling banyak terpapar Covid-19 yaitu di Sidney, disusul kemudian Melbourne karena disamping penduduknya paling banyak, juga sering dikunjungi turis luar negeri.

Bisa dibilang penanganan pencegahan Covid-19 di Australia itu cukup sukses. Terhitung hingga Juni 2020, jumlah penduduk yang meninggal akibat Covid-19 hanya 102. Dengan jumlah terkonfirmasi positif Covid-19 yang sangat sedikit.

“Itu berbeda jauh misalnya dengan negara Amerika dan Inggris yang meninggal hingga ribuan akibat terpapar Covid-19,” tambahnya.

Karena jumlah yang terpapar Covid-19 hanya sedikit, lanjutnya, disamping luasnya wilayah dan tidak terjadi kepadatan penduduk, lanjutnya, maka Pemerintah Australia tidak mewajibkan warganya untuk menggunakan masker.

Meski begitu warga negara Australia dikenal sebagai warga yang mempunyai disiplin yang sangat tinggi.Fitri menambahkan, jika warga Australia melanggar peraturan penanganan Covid-19, bisa didenda 1.200 AUD (Dolar Australia). 1 AUD atau Dolar Australia Rp 9,785,83. Atau hampir Rp Rp 10 ribu/1 AUD.

“Makanya penanganan Covid-19 di Australia cepat selesai atau curvanya cepat mendatar karena contact tracingnya efektif dan ditambah penutupan perbatasan pergerakan masyarakatnya berjalan efektif,” terangnya.

Foto olahraga yang hanya diperbolehkan ketika terjadi pembatasan sosial di Australia

Seperti dikutip dari abc.net.au, orang-orang di negara lain diperintahkan untuk memakai masker untuk melindungi diri dari penularan Covid-19, Australia tidak berada di kapal yang sama. Pembatasan Covid-19 di Australia mereda dan itu semakin banyak orang yang keluar.

Pimpinan program keperawatan Universitas Sunshine Coast, Matt Mason, mengatakan perbedaan terbesar antara negara-negara itu dan Australia adalah tingkat resikonya.

“Perbedaan utama adalah kita tidak memiliki beban penyakit yang sama dengan yang dimiliki Amerika atau Inggris atau beberapa negara lainnya,” kata Matt Mason seperti dikutip di www.abc.net.au.

Gambaran Kepadatan Penduduk di Brisbane

Fitri menambahkan, kepadatan penduduk yang relatif sedikit dibanding luasnya wilayah adalah salah satu bagian yang bisa mempermudah penanganan Covid-19. Dalam satu Suburb, area 3.4 km populasi penduduknya 12 ribuan orang. Kepadatan penduduk 3700/km Mayoritas mahasiswa.

Soal tidak diwajibkannya memakai masker, Fitri menambahkan kalau PM Australia, Scott Morrison dan Premier Qoeensland selalu update melalui konferensi pers setiap Jumat perminggu sehingga masyarakat benar-benar tahu maksud pemerintah apa.

“Kalau soal tidak diwajibkannya memakai masker Pemerintah Australia mengikuti saran Chief Medical Officer Brandon Murphy dan tim kesehatan di negara bagian, bahwa untuk kasus Covid-19 di Australia tidak diperlukan masker karena level kasus di Australia relatif rendah, tidak seperti di Amerika atau negara-negara lain yang memiliki community spread (persebaran komunitas) luas. Karena di Australia yang terpapar Covid-19 jumlahnya kecil dan tidak menyebar ke penduduk lokal, yang telah dibuktikan dari hasil tes, yang terkonfirmasi positif sangat rendah dengan tingkat kematian yang sangat kecil (102) di Australia, dibandingkan dengan Amerika yang mencapai ratusan ribu tingkat kematiannya atau Inggris yang mencapai puluhan ribu tingkat kematiannya,” terang Fitri. (mnr). Bersambung…

  • Bagikan