Mayoritas Penduduknya Beternak Sapi Perah, Ekonomi Desa Balonganyar, Lekok, Pasuruan Tidak Terdampak Corona

  • Bagikan
Proses memerah Susu
Warga Desa Balonganyar, Lekok Pasuruan

Pasuruan,- Diantara sekian usaha atau pekerjaan masyarakat, barangkali Warga Desa Balonganyar ini yang kelihatan mujur. Meski dampak corona menghempas berbagai sektor ekonomi, namun, untuk ekonomi warga Desa Balonganyar tergolong aman. Maklumlah, desa yang hampir bersebelahan dengan pesisir tambak itu mayoritas warganya beternak sapi perah.

Menurut penuturan Kepala Desa Balonganyar, H. Sholeh, hampir 90 % penduduknya bermata pencaharian sebagai peternak sapi perah.

“Rata-rata penduduk sini minimal punya sapi perah 3 ekor. Yang paling banyak bahkan ada yang punya 250 ekor sapi perah,” terang kepala desa yang terpilih tiga periode ini.

H. Sholeh, Kepala Desa Balonganyar saat berfoto dengan Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, H.Sudiono Fauzan S.Ag, MM

H. Sholeh, panggilan akrab Kepala Desa Balonganyar ini menuturkan, diperkirakan, dalam satu harinya di Desa Balonganyar ini ada sekitar 28.000 liter. Satu liter susu sapi dihargai bervariasi.

“Dulu memang harga susu di Desa Balonganyar ini dimonopoli salah satu koperasi. Sehingga harga susu sapi perah ditingkat peternak hanya berkisar Rp 4.000 per liter. Sekarang sudah tidak lagi, sekarang peternak sapi perah di desa ini bebas menjual susu sapinya kemana saja. Di sini sekarang bisa menjual susu sapinya di koperasi karya amanah, koperasi suka makmur. Bahkan ada yg langsung menjual ke PT. Nestle atau ke PT. Indolakto,” terang kepala desa yang juga memiliki empat ekor sapi perah ini.

Harganya pun, lanjutnya, bervariasi. Sekarang ada yang Rp 5500/liter, bahkan ada yang berani membeli Rp 6500/liter.

“Karena itu peternak sapi perah disini tidak terikat dengan salah satu koperasi. Kalau ada yang berani jual dengan harga yang agak mahal, maka peternak itu pindah menjualnya. Jadi tidak ada monopoli harga lagi disini,” terangnya bangga.

Disamping itu, lanjutnya, Desa Balonganyar ini adalah salah satu desa yang secara ekonomi tidak terdampak Corona.

“Alhamdulillah di desa sini ekonominya tidak terdampak Corona. Masyarakat petani sapi perah bekerja seperti sedia kala. Biasa saja. Kalaupun ada yang terdampak Corona ekonominya, itupun tidak seberapa,” jelasnya menambahkan.

Untuk ukuran pendapatan, lanjutnya, rata rata peternak bisa menghasilkan Rp 75.000/ekor sapi. Untuk satu ekor sapi, kata Kepala Desa ini, bisa mengahasilkan sekitar 15 liter susu.

“Kalau sapinya impor yang kualitasnya super, satu ekor sapi bisa menghasilkan 30 liter susu. Jadi Rp 75.000 per 1 ekor sapi itu bersih. Setelah kepotong biaya rumput, konsentrat, ampas tahu dan gambling. Juga tenaga kerja,” ujarnya menambahkan.

Disamping penghasil susu sapi, Desa Balonganyar juga bisa swasembada energi. Dari sekitar 8000 ekor sapi yang dimiliki warga desa, ada sekitar 8 ton kotoran ternak yang dihasilkan.

“Dari kotoran ternak itu bisa digunakan untuk energi atau biogas. Sehingga warga masyarakat Balonganyar bisa menghemat beli tabung gas elpiji. Hampir 95 % masyarakat sini memakai biogas untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar dapurnya,” terang H. Sholeh. (mnr).

  • Bagikan