Kota Batu | JATIMONLINE.NET,- Peringatan 100 tahun Desa Tulungrejo berlangsung dalam suasana yang tidak sekadar meriah, tetapi juga sarat makna. Melalui prosesi Atur Pisungsun Merti Bumi yang digelar di Balai Desa, Sabtu (27/6/2026), warga kembali menegaskan hubungan erat antara manusia, alam, dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.

Tradisi ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Warga dari lima dusun membawa hasil bumi seperti sayur, buah, dan hasil pertanian lainnya sebagai simbol rasa syukur atas keberkahan yang mereka terima.

Warisan yang Tak Sekadar Dikenang.

Merti Bumi bukan hanya acara tahunan, melainkan bentuk kesadaran kolektif untuk menjaga identitas. Di tengah perubahan zaman, tradisi ini tetap bertahan karena dianggap sebagai pedoman hidup, bukan sekadar seremoni.

Momentum satu abad desa menjadi pengingat bahwa nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam masih menjadi fondasi kehidupan masyarakat Tulungrejo. Tema “Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti” memperkuat makna tersebut—bahwa rasa syukur dan kesadaran spiritual tetap menjadi pusat kehidupan.

Pesan yang Mengakar dari Tradisi.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota Batu Nurochman turut hadir dan menyampaikan pandangannya tentang pentingnya menjaga budaya di tengah perkembangan zaman. Namun suasana yang terbangun tetap terasa sebagai milik masyarakat, bukan sekadar acara resmi.

“Budaya leluhur itu bukan hanya untuk dikenang, tapi dijaga. Dari situlah kita punya pegangan di tengah perubahan yang cepat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut selaras dengan apa yang telah lama dijalankan warga—bahwa tradisi bukan hanya diwariskan, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Simbol Persatuan dan Harmoni Alam.

Prosesi mencapai puncaknya saat air dari lima dusun disatukan dalam satu kendhi. Air dari Dusun Wonorejo dipadukan dengan sumber lainnya, menjadi simbol persatuan yang melampaui batas wilayah dusun.

Bagi masyarakat, ritual ini mencerminkan keseimbangan hidup. Alam tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga dijaga sebagai bagian dari keberlangsungan generasi berikutnya.

Tradisi yang Terus Menjadi Penuntun.

Seratus tahun perjalanan Desa Tulungrejo menunjukkan bahwa tradisi tidak lekang oleh waktu selama masih dijaga bersama. Merti Bumi menjadi bukti bahwa warisan leluhur tetap relevan, bahkan di tengah kehidupan modern.

Bagi warga, menjaga budaya bukan soal mempertahankan masa lalu, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai itu tetap hidup dan menjadi arah dalam melangkah ke masa depan. (den).