Ketua Barigade Gus Dur Pasuruan Serukan Peringatan Hari Santri Jangan Hanya Sekedar Seremonial
Kolom | JATIMONLINE.NET,- Melihat fenomena sekarang, dimana peringatan hari santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober itu diperingati hanya sekedar seremonial belaka, atau sekedar pamer gebyar. Jika politisi, semisal bupati, gubernur, DPRD atau DPR RI hanya untuk menggalang popularitas dan simpati dukungan politik warga NU dan santri tapi malah justru menghilangkan makna yang sesungguhnya. Itulah yang memicu keprihatian Ketua Barigade Gus Dur Pasuruan, Muslimin. Demikian pernyataan Ketua Barigade Gus Dur Pasuruan, Muslimin yang dirilis bebebepa media .
Para kiai, para santri, para pemimpin daerah, dan segenap hadirin yang dimuliakan Allah SWT,
memperingati Hari Santri Nasional,
hari yang lahir dari fatwa jihad para ulama,
hari yang menandai kebangkitan santri dalam mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan keutuhan bangsa.
🕌 1. Hari Santri Adalah Momentum Spirit, Bukan Sekadar Seremonial
Hari Santri bukan hanya perayaan,
tetapi perenungan dan penguatan nilai.
Nilai keikhlasan, perjuangan, dan kebangsaan yang diwariskan oleh para kiai dan pejuang pesantren.
Karena itu, kegiatan Hari Santri harus diarahkan untuk memperdalam ruh perjuangan santri, bukan untuk menonjolkan individu atau tokoh,
apalagi menjadikannya ajang hiburan massal yang kehilangan makna spiritualnya.
🚫 2. Seyogyanya Hari Santri Menolak Kegiatan yang Menggeser Nilai Hari Santri
Akhir-akhir ini, banyak muncul rencana mengundang Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dalam peringatan Hari Santri. Kami menghormati beliau sebagai tokoh yang mencintai shalawat.
Namun, panggung Hari Santri bukan tempat untuk pertunjukan hiburan massal yang cenderung berorientasi pada tontonan, bukan tuntunan.

Mengundang tokoh populer keagamaan dengan format konser shalawat sering kali:
– menghabiskan anggaran daerah yang semestinya untuk kegiatan pembinaan santri,
– mengalihkan perhatian dari esensi pendidikan dan kebangsaan santri,
– serta berpotensi menimbulkan fanatisme terhadap figur, bukan terhadap nilai perjuangan.
– Hari Santri harus kita jaga sebagai panggung ilmu, bukan panggung popularitas.
📚 3. Kegiatan Hari Santri Harus Kembali ke Nilai Asal
Mari kita tegakkan kembali ruh Hari Santri dengan kegiatan yang mendidik, mencerahkan, dan memberdayakan, seperti:
Doa dan istighotsah nasional,
Lomba kajian kitab kuning dan hafalan sejarah ulama,
Dialog kebangsaan antara santri dan pemerintah,
Gerakan sosial santri: bakti masyarakat, lingkungan, dan pendidikan.
Itulah bentuk kegiatan yang lebih sesuai dengan makna “Resolusi Jihad” dan ajaran para kiai pendiri bangsa.
💬 4. Menjaga Kemurnian dan Marwah Santri
Kita tidak menolak tokoh,
tetapi menolak bentuk kegiatan yang tidak sesuai nilai perjuangan santri.
Kita ingin Hari Santri menjadi momentum tafakkur, bukan euforia;
menjadi pembinaan iman, bukan hiburan; dan menjadi gerakan dakwah yang berakar dari pesantren, bukan dari panggung komersial.

🇮🇩 5. Pesan Penutup
Hari Santri adalah milik semua santri,
bukan milik kelompok tertentu, bukan milik figur tertentu.
Hari Santri adalah warisan bangsa,
yang harus dijaga dari penyimpangan makna dan penyalahgunaan dana publik.
> Mari kita jaga kesucian Hari Santri dari arus hiburan yang menenggelamkan nilai perjuangan.
Mari kita kembalikan Hari Santri kepada cita-cita awalnya: meneguhkan iman, ilmu, dan cinta tanah air.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Moslem
Barigade gus Dur


Tinggalkan Balasan