Lomba Agustusan yang Berakhir Duka: Detik-detik Tragis di Tepi Sungai
Jombang | JATIMONLINE.NET,- Suasana peringatan Hari Kemerdekaan di Desa Mayangan, Jombang, seharusnya dipenuhi kegembiraan dan tawa. Namun, pada Sabtu yang cerah itu, sebuah acara memancing yang meriah seketika berubah menjadi panggung duka. Peristiwa itu menorehkan luka mendalam dan menjadi cerita tragis yang akan sulit dilupakan oleh warga setempat. Hari itu, seorang pemuda bernama Adi Angga Krismoyo (27), yang datang bersama ayahnya untuk bersenang-senang, justru menemukan takdirnya di dasar sungai.
Pagi itu, sekitar pukul 09.30 WIB, Adi tiba di lokasi lomba dengan penuh semangat. Ia terlihat antusias, bergabung dengan kerumunan warga yang memadati area lomba. Lomba memancing yang digelar dalam rangka HUT ke-80 Kemerdekaan RI ini memang menjadi magnet bagi banyak orang, termasuk Adi. Tanpa ada firasat sedikit pun, sang ayah, Sutiyono, menyaksikan putranya berjalan menuju bagian bawah dam, bersiap untuk ikut serta dalam perlombaan.
Detik-detik selanjutnya terjadi begitu cepat, seolah melompat dari nalar. Tak ada yang bisa menjelaskan mengapa, tanpa aba-aba, Adi tiba-tiba melompat ke dalam sungai. “Kami semua terkejut, tidak ada yang menyangka ia akan melakukan itu,” ujar salah seorang saksi mata yang masih syok. Keheningan yang sempat tercipta, segera pecah oleh teriakan panik. Kedalaman sungai yang mencapai 8 meter menelan tubuh pemuda itu dalam sekejap, meninggalkannya tanpa jejak.
Kepanikan menjalar. Warga dan panitia segera menghentikan lomba, mata mereka semua tertuju ke permukaan air. Dalam hitungan detik, puluhan orang mulai melakukan pencarian. Mereka saling bantu, tanpa memikirkan lelah, berusaha menemukan Adi yang tak kunjung muncul. “Kami tidak bisa tinggal diam. Kami harus menemukannya,” tutur edi, seorang warga dengan wajah tegang.
Pencarian berlangsung menegangkan selama kurang lebih 30 menit. Setiap detik terasa bagai jam, setiap wajah menampakkan harapan cemas. Hingga akhirnya, upaya pencarian membuahkan hasil. Tubuh Adi Angga berhasil ditemukan, namun kondisinya sudah lemas. Ia segera diangkat ke daratan dengan bantuan warga. Wajah-wajah yang tadinya panik, kini dipenuhi rasa sedih dan penyesalan.
Korban segera dilarikan ke Puskesmas Mayangan menggunakan mobil patroli Polsek Jogoroto. Namun, takdir berkata lain. “Meskipun sudah berupaya maksimal, nyawanya tidak dapat diselamatkan,” kata petugas medis yang berjuang menolongnya. Kondisi Adi yang memburuk membuat tim medis memutuskan untuk merujuknya ke RSUD Jombang.
Sayangnya, dalam perjalanan menuju rumah sakit, harapan itu pupus. Dokter menyatakan Adi Angga Krismoyo sudah meninggal dunia. Kabar duka ini langsung menyebar dan menjadi awan kelabu yang menyelimuti seluruh desa. Kebahagiaan perayaan kemerdekaan yang dirasakan sebelumnya, kini berubah menjadi kesedihan yang tak terperi.
Menurut keterangan yang dihimpun dari pihak keluarga, Adi Angga memiliki riwayat kesehatan yang sensitif. Terdapat dugaan kuat bahwa korban memiliki riwayat penyakit seperti epilepsi, yang mungkin menjadi pemicu di balik tindakan yang mengejutkan tersebut. Kondisi ini membuat kejadian itu terasa semakin memilukan, seolah nasib yang kejam telah menuntunnya ke sana.
Saat ini, pihak kepolisian terus melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui penyebab pasti di balik insiden tragis ini. Kapolsek Jogoroto, AKP Djulan, mengatakan, “Kami akan terus melakukan pendalaman mengenai kejadian ini, termasuk faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi kejadian ini.”
Namun, bagi keluarga dan warga, misteri itu tak akan pernah menghilangkan rasa kehilangan yang teramat dalam. Mereka hanya bisa mengenang Adi Angga sebagai seorang pemuda yang harus pergi di tengah-tengah perayaan kemerdekaan yang seharusnya penuh suka cita. (mar).


Tinggalkan Balasan