Tidak Ada Komunikasi Lebih Lanjut, FK3 Akhirnya Mencabut Dukungan Ke Pasangan Kelana – Dwi Astutik

  • Bagikan
Rilis FK3 terkait pencabutan dukungan pada Kelana – Dwi Astutik, di Rumah Makan Asap-asap Sidoarjo

Sidoarjo | JATIMONLINE.NET,- Forum Komunikasi Kiai Kampong (FK3) Kebupaten Sidoarjo resmi mencabut dukungannya kepada pasangan Nomor urut 3, Kelana Aprilianto – Dwi Astutik, pada Senin, 19 Oktober 2020, di Rumah Makan Asap – Asap, Taman Pinang Sidoarjo.

Penyampaikan pencabutan dukungan FK3 tersebut disampaikan oleh Koordinator Daerah FK3 Kabupaten Sidoarjo, Haris Nukman, dan dihadiri perwakilan FKB 12 kecamatan.

Haris, panggilan akrab Haris Nukman mengatakan, pencabutan dukungan FK3 tersebut didasarkan pada terputusnya komunikasi antara FK3 dan Kelana. Haris menambahkan, Kelana juga dinilai tidak memfollow up program program kesejahteraan FK3 yang pernah disepakati dalam deklarasi dukungannya pada Kelana.

Dalam kesempatan diskusinya, Koordinator FK3 menuturkan bahwa FK3 itu adalah forum yang rutin bertemu dan saling silaturahmi ditingkat kecamatan setiap minggunya. Juga ditambahkannya, bahwa program FK3 itu tidak hanya menjalin komunikasi dengan antar sesama Kiai Kampung atau guru guru ngaji, tetapi juga membangun komunikasi antar lembaga diniyah.

“Yang perlu digaris bawahi bahwa kegiatan FK3 itu bukan hanya ada menjelang momen pilkada ini. Jauh sebelum pilkada ini, FK3 itu sudah ada dan melakukan kegiatan. Kita mencabut dukungan FK3 ke Kelana itu lebih disebabkan karena Kelana sulit diajak komunikasi pasca turunnya rekomendasi partai,” terangnya.

FK3 berharap menemukan pemimpin untuk Sidoarjo yang tidak sulit untuk diajak komunikasi. “Kita sudah pernah bersepakat dan membuat MOU dengan Pak Kelana, pasca deklarasi dukungan pada Pak Kelana bulan maret lalu, sebelum turunnya rekomendasi partai. Namun setelah turunnya rekomendasi, Pak Kelana ternyata sulit diajak komunikasi,” tambahnya.

Dalam diskusi sebelum pembacaan rilisnya, FK3 menjelaskan bahwa program program BHS dirasa ada kesamaan visinya, kaitannya dalam perhatian terhadap nasib guru-guru ngaji atau guru-guru madrasah.

Kaitannya dengan program membangun Sidoarjo sebagai kota santri, seperti yang disampaikan Muhammad Ali, akrab disapa Gus Ali, dengan memperbaiki lahan parkir makam makam para wali yang banyak dikunjungi warga Nahdlyyin, dirasa cocok dan sesuai dengan visinya FK3. (mnr).

  • Bagikan