Kasus Arisan Bodong Rp1,8 M, Puluhan Biduan Datangi Wawali Surabaya
Surabaya | JATIMONLINE.NET,- Dugaan penipuan berkedok arisan dengan total kerugian mencapai Rp1,8 miliar menyeret puluhan biduan dangdut ke rumah dinas Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, Selasa (12/5/2026).
Mereka datang untuk mencari kejelasan sekaligus meminta dukungan pemerintah kota dalam mengawal kasus yang melibatkan sekitar 84 korban tersebut. Sebagian besar korban diketahui berasal dari Surabaya dan sekitarnya.
Perwakilan korban yang hadir sejak pagi menyampaikan bahwa skema arisan tersebut awalnya berjalan normal. Kepercayaan peserta tumbuh karena pencairan dana di tahap awal sesuai kesepakatan.
“Awalnya lancar, bahkan sempat cair. Karena itu kami makin yakin dan menambah setoran,” ungkap salah satu korban, Dhea Bonita.
Namun kondisi berubah sejak Februari 2026. Pembayaran mulai tersendat hingga akhirnya berhenti, sementara terduga pelaku berinisial NS alias Amanda tidak dapat dihubungi.
Dhea mengaku mengalami kerugian sekitar Rp40 juta. Ia mengikuti arisan dengan sistem setoran bertahap yang dijanjikan memberikan keuntungan lebih tinggi dari nominal awal.
“Setoran kecil tapi dijanjikan hasil lebih besar dalam waktu singkat,” ujarnya.
Korban lain, Jihan Safita, menyebut kerugiannya mencapai Rp15,8 juta. Ia juga mengungkap adanya peserta lain yang mengalami kerugian jauh lebih besar, bahkan hingga ratusan juta rupiah.
“Saya sempat ragu, tapi akhirnya ikut karena melihat gaya hidup pelaku di media sosial yang terlihat meyakinkan,” kata Jihan.
Pendamping hukum korban, Yudhistira Eka Putra, menjelaskan bahwa pola yang digunakan merupakan modus umum arisan bodong, yaitu menawarkan keuntungan tinggi dalam waktu singkat untuk menarik minat korban.
“Janji keuntungannya bisa 20 sampai 50 persen, itu yang membuat banyak orang tergiur,” jelasnya.
Saat ini, korban masih memberikan waktu kepada pihak keluarga terduga pelaku untuk menyelesaikan pengembalian dana hingga 17 Mei 2026.
“Kalau sampai batas waktu tidak ada realisasi, maka langkah hukum akan kami tempuh,” tegas Yudhistira.
Mayoritas korban berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kota Surabaya, mengingat sebagian besar dari mereka merupakan warga setempat.
Menanggapi hal itu, Armuji menyatakan siap membantu mengawal proses penyelesaian dan membuka ruang komunikasi antara korban dengan pihak terkait. (man).


Tinggalkan Balasan