Proyek Pompa Air Rp 4,8 M di Sumenep Rusak Diguncang Bencana

  • Bagikan
Kondisi proyek Pompa Air Tanpa Motor senilai 4.8 Milyar yang rusak di Sumenep

Sumenep | JATIMONLINE.NET – Proyek pompa air tanpa motor (PATM) di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, rusak diguncang bencana banjir. Padahal proyek senilai Rp 4,8 miliar tersebut baru tiga bulan diresmikan. Pemerintah dan pelaksana kompak jika kerusakan proyek dipicu bencana alam.

Garapan PATM yang berlokasi di Desa Lebbeng Barat Kecamatan Pasongsongan ini dimenangkan tender atas nama CV. Sady Family dengan nomor SPK/Kontrak: 602.1/01/.PATM-L.KT/435.110.2/2020. Volume pekerjaan proyek satu paket dengan target masa pelaksanaan 150 hari kerja.

PATM ini ditaksir akan bermanfaat bagi warga secara menyeluruh, tidak hanya Desa Lebbeng Barat, namun Desa tetangga meliputi Lebbeng Timur, Prancak, dan Montorna juga akan merasakan dampaknya.

PATM memiliki 17 pompa air dengan satu tandon. Daya tampungnya pun bisa mencapai hingga 72 liter. Sementara, daya isi tandon saat mengisi air hanya memerlukan waktu 50 menit.

Ada dua bendungan PATM yang terdiri dari bendungan I dengan 7 pompa, dan dendungan II 10 pompa. Jika dijumlah, terdapat 17 pompa. Jarak 17 pompa itu, langsung menuju tandon dengan ketinggian permukaan 72 meter dari tanah.

PATM yang digarap sejak tanggal 28 April 2020 itu berakhir pekerjaannya pada 12 November 2020 lalu. Namun, tiga bulan dari peresmian, bencana alam tak terduga melanda proyek tersebut.

Pengakuan warga, Mohammad Bahar (44), banjir jadi salah satu pemicu proyek gagal fungsi. Banjir itu pula menjadi bencana alam terparah di tahun 2021.

“Apalagi hujannya yang sangat deras. Kalau banjir bandang memang setiap tahun,” kata Bahar, saat ditemui wartawan, Jumat (22/1).

Semula ia menilai, adanya pembangunan pompa air ini telah bermanfaat bagi banyak masyarakat. Sayang tak bertahan lama akibat faktor alam, PATM tersebut sudah rusak parah dan tidak lagi berfungsi.

“Hujan yang bertubi-tubi ini yang membuat banjir terjadi. Banjir tahun ini lebih besar dari tahun yang sebelumnya,” katanya lagi.

Disisi lain, soal banjir yang membuat PATM gagal fungsi, para pekerja termasuk dirinya mengaku kesulitan saat mengangkut material ke lokasi pekerjaan proyek.

Sebanyak 30 orang pekerja dari warga setempat sudah dengan gigih menerima hukum alam. Medan yang cukup licin, kata dia, tetap dikerjakan sebaik mungkin.

“Tapi jika melihat cuaca, saat hujan lebat tidak dikerjakan. Materialnya ditempatkan di pemukiman warga. Kendalanya hanya hujan. Tapi kami bersyukur adanya PATM ini,” akui dia.

Warga lain juga menganggap, jalan terjal menjadi kendala terselesainya PATM dari target yang semula akan tepat waktu menjadi molor. Hal itu dikatakan Sura’is (60), material proyek sedikit lambat masuk ke lokasi pengerjaan.

“Kesulitannya ya dari jalan ini. Kalau hujan sudah pasti sulit masuk,” ujarnya.

Kepala Dinas PU SDA Kabupaten Sumenep Chainur Rasyid, melalui Kepala Bidang (Kabid) PPSDA dan Binman, Agus Ribut Susanto menerangkan, jika kerusakan material pompa air itu memang disebabkan oleh faktor alam.

Ia mengaku, pemerintah telah berkoordinasi dengan pihak rekanan untuk segera memperbaiki. Dari kerusakan itu, pihaknya telah memerintahkan pelaksana untuk segera memperbaiki. Sebab, akibat kendala hujan, proses kontruksi bangunan menjadi syarat kendala para pekerja mengangkut bahan material ke lokasi.

“Saat ini dalam proses perbaikan,” ungkapnya. (rus)

  • Bagikan