Jadi Ketua Komisariat PMII STAIPANA, Mendirikan Posbakum hingga Sempat Daftar Calon Bupati (Bagian 2)

Pasuruan | JATIMONLINE.NET,- Di Terminal Bungurasih, Surabaya, Ali Sodikin menjadi pedagang asongan. Pengalaman menjadi pedagang keliling dari bus satu ke bus lainnya itu dijalaninya selama kurang lebih satu tahun. Menekuni dunia barunya sebagai pedagang asongan, Ali Sodikin merasa belum menemukan sesuatu yang diharapkan. Ia pun akhirnya ingin hijrah, tetapi tidak tahu ke mana arah dan tujuannya.

Atas saran Bang Aton, Ali Sodikin disuruh merantau lagi ke arah timur, tepatnya menuju Bangil, Pasuruan. Di Bangil, Ali Sodikin disarankan Bang Aton menemui rekannya, yaitu Mbak Yul. Setelah bertemu Mbak Yul, Ali Sodikin menceritakan beberapa hal atas referensi Bang Aton.

“Sampai akhirnya saya pun ikut Mbak Yul ngenger di rumah kontrakannya Mbak Yul. Di sana saya sambil jadi pedagang kaki lima, jual es dawet. Bukan itu saja, saya juga bekerja serabutan. Seadanya. Sampai jadi tukang becak sebagai sambilannya. Dari berbagai usaha itu, akhirnya saya mempunyai warung nasi di Plaza Bangil,” terang Ali Sodikin mengenang.

Dari beberapa usaha itu, Ali Sodikin merasa ada peningkatan ekonomi. Hidupnya mulai membaik, pelan tetapi pasti. Sampai pada akhirnya, Ali Sodikin merasa masih ada yang kurang dalam hidupnya. Ia ingin kuliah. Di samping untuk meningkatkan kapasitas diri, Ali Sodikin merasa status sosialnya juga harus dinaikkan dengan kuliah.

Mulailah Ali Sodikin mencari kampus yang bisa dijangkau sesuai kapasitasnya dan memiliki banyak toleransi. Pilihannya jatuh pada STAIPANA (Sekolah Tinggi Agama Islam Panca Wahana) Bangil. Ali Sodikin memulai kuliah pada tahun 1996.

“Saya memilih STAIPANA karena kampus tersebut mudah cara mendaftarnya dan penuh toleransi. Saya menyadari di awal perantauan, saya tidak siap membawa persyaratan masuk menjadi mahasiswa. Tidak membawa dokumen apa pun. Saya hanya bawa baju dan celana saja,” urai Ali Sodikin.

Kuliah di STAIPANA, Ali Sodikin masuk di Fakultas Syariah, Jurusan Ahwalul Syakhsiyah. Di Fakultas Syariah ini, pada zaman itu mahasiswanya hanya sembilan orang pada tahun 1996.

“Sampai pada lulus dan wisuda, itu hanya saya sendiri.”

Ali Sodikin tergolong mahasiswa yang tekun dan sungguh-sungguh. Sebagai seorang perantau yang bonek (bondo nekat) dan bercita-cita tinggi ingin menjadi orang yang berguna, semangat tholabul ilmi menjadi spirit yang kuat guna memacu semangat belajar.

Aktif di beberapa kegiatan mahasiswa, mulai HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Syariah, DPD Farmasi, BPMP (Biro Pendampingan dan Pemberdayaan Masyarakat), hingga PMII. Di PMII, Ali Sodikin pernah menjadi Ketua Komisariat STAIPANA. Waktu itu, ketua cabangnya adalah Sudiono Fauzan, yang pernah menjadi Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan.

Dunia pergerakan dan organisasi benar-benar mengubah segalanya. Rupanya, Ali Sodikin menemukan dunianya setelah aktif di berbagai organisasi mahasiswa tersebut. Pascalulus sebagai mahasiswa, Ali Sodikin tetap menekuni dunia organisasi.

Pada awal pembentukan PKB di Pasuruan, Ali Sodikin tercatat sebagai bagian dari pendiri PKB di Kabupaten Pasuruan. Tahun 2001, Ali Sodikin sempat mencalonkan diri sebagai bupati, tetapi tereliminasi karena usia belum cukup.

Tahun 2003, Ali Sodikin bersama ICDHRE (Islamic Center Demokration Human Right and Empowerment) mendorong isu perempuan dan advokasi kebijakan selama sembilan tahun. Pergerakan inilah yang kemudian mengantarkan Ali Sodikin hingga mendirikan lembaga yang aktif menyikapi isu perempuan dengan mendirikan PPT PPA (Pusat Perlindungan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) pada tahun 2012.

Gerakan ini meliputi pengorganisasian masyarakat, utamanya masyarakat, perempuan, dan anak rentan, serta advokasi kebijakan.

“Setelah itu saya memilih fokus pada bantuan hukum gratis melalui OBH YRPP yang bermitra dengan Kementerian Hukum dan HAM dan advokasi kebijakan hukum, yang menghasilkan perda bantuan hukum gratis bagi masyarakat miskin sampai saat ini,” jelas Ali Sodikin.

Di sela-sela aktivitas bantuan hukum ini, Ali Sodikin menginisiasi dan merintis gerakan lingkungan hingga terbentuknya Yayasan Alam Rimba Center. Dengan segala dinamika sosial yang ada, perlu mendapatkan dukungan politik untuk mengubah gerakan sosial menjadi lebih baik.

“Pada momen politik 2024, saya melakukan riset politik melawan gerakan politik money politics dengan mencalonkan diri sebagai caleg tanpa money politics, dengan mengusung isu kesehatan dan ekonomi kreatif. Namun, ide itu belum berhasil. Tapi bagi saya, itu bukanlah akhir dari cerita gerakan politik tanpa money politics,” ujar Ali Sodikin. (mnr).