Pasuruan | JATIMONLINE.NET,- Kisah “tragis” perjalanan hidup Ali Sodikin, S.Ag., CPLA, memang menarik untuk dijadikan bahan renungan. Ali Sodikin, tokoh yang kini bergerak di bidang bantuan hukum itu, ternyata memiliki latar belakang kehidupan yang memilukan, tragis, namun penuh semangat juang. Kisah sukses perjuangan hidup Ali Sodikin memang layak diapresiasi. Kini, Ali Sodikin dipercaya mengelola Yayasan Bantuan Hukum dan Yayasan Alam Rimba Center.

Kisah ini dipersembahkan kepada anak-anak, teman pergerakan, utamanya bagi sahabat-sahabat PMII yang barangkali mengalami banyak keterbatasan dalam hidup. Kisah hidup Ali Sodikin ini bisa menjadi spirit perjuangan, menjadi “modal semangat” untuk melawan kerasnya hidup, menjemput impian, serta menyongsong cita-cita dan harapan.

Ali Sodikin, sebuah nama yang tidak asing di dunia bantuan hukum, utamanya di Pasuruan. Ya, Ali Sodikin adalah Ketua Yayasan Rumah Perempuan Pasuruan (YRPP), lembaga yang mengelola bantuan hukum (Posbakum) yang berdomisili di Beji, Pasuruan. Lembaga ini mengelola bantuan hukum untuk warga masyarakat yang tidak mampu.

Di samping itu, Ali Sodikin juga mengelola Yayasan Alam Rimba, sebuah lembaga yang bergerak memberikan layanan pengobatan tradisional dan terapi, utamanya untuk masyarakat yang kurang mampu. Meski bukanlah tokoh besar dan pengusaha yang kaya raya, semangat juang Ali Sodikin dalam menggapai cita-cita dan semangat mengubah hidup menuju lebih baik membuat kisah hidupnya menarik untuk ditapaki.

Cak Ali, begitu Ali Sodikin akrab disapa, adalah seorang perantau. Ia berasal dari Demak, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Tegalarum, Kecamatan Mranggen. Ali Sodikin lahir pada 10 Februari 1975. Ali Sodikin mempunyai 14 saudara. Ia lahir dari keluarga yang bisa dibilang penuh keterbatasan. Selain menjalani aktivitas di dunia pendidikan, keseharian Ali Sodikin adalah ke sawah, membantu orang tuanya sebagai petani.

Ihwal perjalanan hidup Ali Sodikin dimulai dari perantauan setelah ia menamatkan sekolah Madrasah Aliyah pada tahun 1992. Ali Sodikin juga pernah menimba ilmu agama di Wisma Edi Mancoro, Salatiga, selama hampir satu tahun.

Setelah mendalami spiritual selama setahun itu, Ali Sodikin kembali ke kampung halamannya di Demak. Berawal dari rasa ingin mendaki Gunung Semirang, Ungaran, Semarang, Jateng, bersama teman-temannya, dilalah setelah sampai tujuan, Ali Sodikin berubah pikiran. Dari situlah ternyata awal perubahan jalan hidupnya.

Awalnya ia bingung, kenapa sampai berubah pikiran.

“Setelah sampai tujuan kok saya berubah pikiran. Entah kenapa kok saya mengurungkan niat mendaki gunung. Saya memilih meneruskan perjalanan. Padahal ke mana juga saya tidak tahu. Tidak tahu tujuan yang jelas. Pokoknya ingin memulai perjalanan saja,” kata Ali Sodikin mengenang masa silamnya.

Dari Ungaran, ia naik bus ke Terminal Solo, kemudian naik bus lagi ke Surabaya. Ke Surabaya pun sebenarnya Ali Sodikin tidak tahu akan menuju ke siapa dan mau melakukan apa. Setelah dari Surabaya, Ali Sodikin naik bus lagi menuju Bangkalan, Madura.

“Selama di Bangkalan itu saya numpang tidur di pondok pesantren di Bangkalan. Di pondok itu saya ngenger (ikut kiai sambil membantu sebisanya). Selama tiga bulan di Bangkalan saya merasa belum menemukan apa yang saya cari, apa yang saya harapkan. Akhirnya saya kembali ke Surabaya lagi,” ujar Ali Sodikin.

Di Terminal Bungurasih, Ali Sodikin tidak mengenal siapa-siapa dan tidak punya sanak saudara. Bekal kebutuhan hidupnya juga tidak ada.

“Terpaksa akhirnya saya mbambung di Terminal Bungurasih. Selama tiga hari. Di sana saya mbambung. Tidak makan juga tidak minum selama tiga hari. Tidur di Terminal Bungurasih,” ujar Ali Sodikin mengenang pengalaman pahit hidupnya.

Dalam kondisi yang tidak menentu, tidak punya bekal dan sangu, serta tidak memiliki sanak saudara, kondisi Ali Sodikin sangat memprihatinkan. Tubuhnya tampak kusut dan lusuh. Wajahnya muram. Pandangannya kabur dan tidak tahu harus bagaimana dan mau apa. Ia bingung.

“Suatu ketika ada yang menghampiri saya. Mungkin karena kasihan, orang tersebut akhirnya mengajak saya untuk menginap di kontrakannya. Orang itu bernama Aton Pasaribu,” kenang Ali Sodikin.

Dalam kisah hidup yang penuh keprihatinan ini, Bang Aton bagi Ali Sodikin adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Bang Aton datang di saat yang tepat, saat ketika Ali Sodikin berada di titik nol dan benar-benar membutuhkan uluran tangan.

Dari kenalannya dengan Bang Aton itulah akhirnya Ali Sodikin diajak berdagang sebagai pedagang asongan, dari terminal bus yang satu ke terminal bus yang lain, dari bus yang satu ke bus yang lain. (Bersambung)