Pasuruan | JATIMONLINE.NET,- Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) melalui program Belajar Bersama Masyarakat (BMM) melaksanakan Program Desa Hijau di Desa Jatigunting, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, sepanjang Juli 2026. Program ini berfokus pada penghijauan serta pengelolaan limbah organik menjadi pupuk kompos.

Kegiatan diawali pada 10 Juli 2026 dengan penanaman 50 bibit kelor di sekitar Balai Desa, meliputi Dusun Krajan dan Krajan Timur. Bibit disediakan oleh pemerintah desa. Penanaman melibatkan mahasiswa UM BMM dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Selanjutnya, pada 18 Juli 2026, digelar pelatihan pengolahan pupuk kompos di Balai Desa Jatigunting. Program bertema “Satukan Aksi, Ciptakan Karya, Wujudkan Solusi melalui Desa Hijau” ini menitikberatkan pemanfaatan limbah kotoran kambing dan sekam padi menjadi pupuk organik dengan tambahan EM4, dolomit, dan gula merah.

Kepala Desa Jatigunting, M. Yudhi Iswanto, mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap pelatihan dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi limbah organik di desa.

Pelatihan diawali dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta, dilanjutkan pemaparan materi dan praktik langsung pembuatan pupuk kompos bersama masyarakat. Salah satu peserta menyebut metode praktik memudahkan pemahaman dalam mengolah limbah menjadi pupuk yang bermanfaat.

Sebagai tindak lanjut, pada 24 Juli 2026 dilakukan pemupukan tanaman kelor menggunakan pupuk hasil pelatihan. Tim juga memasang plakat informasi di lokasi penanaman sebagai sarana edukasi berkelanjutan bagi masyarakat.

Edukasi Kelor dan Potensi Olahannya

Selain penghijauan dan pengolahan limbah, mahasiswa UM BMM juga melaksanakan kegiatan bertajuk “Tanam Kelor, Tebar Manfaat” sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat terkait manfaat tanaman kelor.

Dalam kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada kandungan kelor yang kaya vitamin, mineral, dan antioksidan, serta manfaatnya bagi kesehatan, seperti menjaga daya tahan tubuh, mendukung kesehatan jantung, dan melindungi sel dari radikal bebas. Meski demikian, kelor ditegaskan bukan sebagai pengganti pengobatan medis.

Kepala Desa Jatigunting, M. Yudhi Iswanto, menyampaikan apresiasi atas kegiatan sosialisasi tersebut. Ia berharap masyarakat dapat mulai mengenal, menanam, dan memanfaatkan kelor secara berkelanjutan.

Selain sosialisasi, tim juga memasang poster edukasi di lingkungan desa agar informasi manfaat kelor dapat diakses lebih luas oleh masyarakat. Warga turut diperkenalkan pada berbagai olahan kelor, seperti teh daun kelor dan stik kelor, yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui rangkaian kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu mengelola limbah organik secara mandiri, memanfaatkan tanaman kelor secara optimal, serta meningkatkan kesejahteraan dan kepedulian terhadap lingkungan desa. (nul/cntr).