Surabaya | JATIMONLINE.NET,- Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai bersiap menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi berlangsung lebih lama dari biasanya. Dampaknya tidak main-main, ratusan ribu hektare lahan pertanian terancam mengalami kekeringan.

Berdasarkan data dari BMKG, musim kemarau di wilayah Jawa Timur diperkirakan mulai meluas sejak Mei dan mencapai puncaknya pada Agustus. Pada fase tersebut, sebagian besar wilayah akan terdampak kondisi kering secara signifikan.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan terdampak.

“Durasi kemarau tahun ini bisa mencapai 220 hingga 240 hari di beberapa wilayah. Ini tentu memberi tekanan lebih besar dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Dari hasil pemetaan, dampak kekeringan akan terus meningkat seiring waktu. Pada awal kemarau, lebih dari separuh lahan sawah sudah mulai terdampak. Saat puncak kemarau, angkanya diperkirakan melonjak hingga sekitar 921 ribu hektare atau lebih dari tiga perempat total lahan sawah.

Padahal, total luas lahan baku sawah di Jawa Timur mencapai lebih dari 1,2 juta hektare. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi upaya menjaga produksi pangan.

Di sisi lain, pemerintah daerah tetap menargetkan luas tanam padi mencapai lebih dari 2,4 juta hektare sepanjang 2026. Beberapa daerah seperti Lamongan, Bojonegoro, Ngawi, Banyuwangi, dan Jember menjadi fokus utama pengembangan.

Untuk menghadapi potensi krisis air, pemerintah menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara maksimal. Upaya mitigasi disebut menjadi kunci agar produktivitas pertanian tetap terjaga.

Selain itu, kekeringan juga berpotensi memicu bencana lain seperti kebakaran hutan dan lahan. Kondisi vegetasi yang mengering membuat wilayah lebih mudah terbakar dan memperparah situasi.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi, mulai dari sistem peringatan dini, operasi penanganan cepat, hingga pemulihan pasca-bencana.

Langkah mitigasi kekeringan juga difokuskan pada pembangunan infrastruktur air seperti waduk dan embung, distribusi air bersih, pengeboran sumur, serta penggunaan pompa untuk mendukung kebutuhan pertanian.

Pemerintah berharap upaya ini bisa menekan dampak kemarau panjang, sekaligus menjaga stabilitas pangan di Jawa Timur agar tetap aman di tengah ancaman perubahan iklim. (man).