Probolinggo | JATIMONLINE.NET,- Fenomena alam tak biasa terjadi di kawasan Gunung Bromo sejak 9 Juli 2025. Permukaan pasir, rerumputan, dan jalur pendakian di sekitar Dusun Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo, tampak seperti diselimuti salju tipis. Kondisi ini langsung viral dan menarik perhatian para wisatawan yang ingin mengabadikan momen langka tersebut.

Namun, “salju” yang dimaksud bukanlah salju sesungguhnya, melainkan embun beku atau embun upas. Embun ini terbentuk akibat suhu udara ekstrem di malam hingga dini hari, yang turun drastis hingga mencapai sekitar 5 derajat Celsius. Embun yang membeku tersebut menciptakan lapisan putih menyerupai kristal es di permukaan tanah, memberikan ilusi visual mirip salju tropis.

Cuaca cerah tanpa awan dan angin timur dari Australia menjadi penyebab utama munculnya embun beku ini. Dalam istilah lokal, fenomena udara dingin seperti ini disebut “bediding”. Kondisi ini umumnya terjadi pada musim kemarau, terutama di bulan Juli hingga Agustus, namun tahun ini datang lebih awal dan dengan intensitas yang lebih ekstrem.

Fenomena langka ini membuat para wisatawan memadati kawasan Cemoro Lawang sejak dini hari. Mereka rela menginap di homestay sekitar desa tersebut demi mendapat kesempatan melihat dan memotret embun beku sebelum meleleh terkena sinar matahari. Suasana pagi hari pun berubah layaknya destinasi musim dingin di luar negeri.

Beberapa titik favorit untuk menyaksikan dan mengabadikan embun beku adalah jalur Mentigen dan Seruni Point. Kedua lokasi tersebut menyajikan lanskap yang dipenuhi kristal putih, kontras dengan pasir hitam vulkanik. Sebaliknya, kawasan Penanjakan justru tidak terlalu terdampak oleh fenomena ini karena posisi dan arah angin yang berbeda.

Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto, mengimbau agar para wisatawan yang berkunjung membawa perlengkapan memadai. Ia menyarankan penggunaan jaket tebal, kupluk, masker, dan sarung tangan untuk mengantisipasi suhu dingin ekstrem yang bisa memicu hipotermia, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Kombinasi antara suhu dingin, embun beku, dan pemandangan eksotis Bromo menciptakan nuansa magis yang belum pernah dirasakan sebelumnya. “Ini seperti melihat gurun yang diselimuti salju. Cantik, dingin, dan menyeramkan di saat bersamaan,” ujar salah satu fotografer dari Surabaya yang datang khusus ke Bromo.

Fenomena embun beku ini tidak hanya memberi pengalaman baru bagi para wisatawan, tetapi juga membuka peluang promosi wisata alam ekstrem di Indonesia. Diharapkan, momen langka ini dapat dimanfaatkan secara positif oleh pelaku pariwisata lokal untuk meningkatkan kunjungan dan memperkenalkan wajah baru Gunung Bromo kepada dunia. (wan).