Pertamax Itu Kebutuhan, Bukan Gaya: Saat Harga Memaksa Warga Beralih
Sidoarjo | JATIMONLINE.NET,- Kenaikan harga BBM jenis Pertamax terasa seperti pukulan telak bagi banyak warga di Sidoarjo. Bukan hanya kalangan atas, kini justru masyarakat kelas menengah yang paling merasakan sesaknya. Harga yang melonjak tajam membuat pilihan semakin sempit: bertahan dengan kualitas, atau menyelamatkan isi dompet.
Dari yang semula Rp 12.300 per liter, kini Pertamax dibanderol sekitar Rp 16.250. Lonjakan ini bukan sekadar angka, tapi beban nyata dalam keseharian. Banyak yang mulai berpikir ulang, bahkan terpaksa mengubah kebiasaan yang selama ini dianggap sudah ideal.
Edi (27), seorang pekerja pabrik asal Jati, Sidoarjo, adalah salah satunya. Ia mengaku tak lagi sanggup mengikuti kenaikan harga yang menurutnya sudah di luar batas kewajaran.
“Dompet bisa jebol kalau nuruti isi Pertamax. Naiknya nggak masuk akal, sekarang sudah 16 ribu lebih. Terpaksa isi Pertalite saja,” ujarnya pada Kamis (11/6/2026).
Padahal, bagi Edi, menggunakan Pertamax bukan soal gaya hidup. Motornya yang berkapasitas 160 CC memang dirancang untuk BBM dengan oktan tinggi. Ia paham betul konsekuensinya jika beralih ke Pertalite, mulai dari performa yang menurun hingga potensi kerusakan mesin.
“Pernah pakai Pertalite pas kehabisan bensin, rasanya beda jauh. Motor ini memang untuk BBM Ron tinggi. Tapi kalau harganya seperti ini, ya mau bagaimana lagi,” katanya, lalu terdiam sejenak sebelum menambahkan dengan nada berat, “Lama-lama jadi prihatin dengan kondisi sekarang.”
Cerita serupa datang dari David Septian (30), warga Ngampelsari. Pengguna motor PCX ini juga akhirnya memilih jalan yang sama: menekan pengeluaran, meski harus mengorbankan kenyamanan berkendara.
“Biasanya isi Pertamax, sekarang terpaksa Pertalite. Mau nggak mau, karena selisihnya jauh,” ujarnya.
Menurutnya, dulu selisih harga antara Pertalite dan Pertamax masih bisa ditoleransi. Namun kini, perbedaannya sudah mencapai lebih dari Rp 6.000 per liter—angka yang cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali.
“Kalau bisa ya jangan naik seperti ini. Dulu selisihnya cuma dua ribuan, sekarang jauh sekali,” ungkapnya.
David menilai bahwa pilihan BBM seharusnya tidak lagi dilihat sebagai simbol status. Bagi pecinta otomotif, memilih bahan bakar berkualitas adalah bentuk merawat kendaraan, bukan sekadar gengsi.
Namun kenyataannya, kondisi ekonomi memaksa banyak orang untuk mengalah. Kualitas harus ditukar dengan keterjangkauan.
David pun mengakui perbedaan performa yang cukup terasa. “Kalau Pertamax itu tarikannya lebih enteng, lebih irit. Kalau Pertalite agak mbrebet. Tapi ya nanti kalau ada uang, baru isi Pertamax lagi,” katanya pelan. (adi).


Tinggalkan Balasan