Malang | JATIMONLINE.NET,- Pagi itu, Selasa (16/6/2026), Gunung Kawi sudah dipenuhi lautan manusia. Dari Terminal Wonosari hingga kawasan pesarean, ribuan warga dan pengunjung berdatangan sejak dini hari. Mereka rela berdesakan demi menyaksikan satu momen yang selalu dinanti setiap tahun: Grebek Suro.

Suasana terasa hangat dan hidup. Warga lokal bercampur dengan wisatawan, semuanya larut dalam semangat yang sama—merayakan tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun.

Sebelum acara dimulai, jajaran pengamanan lebih dulu memastikan semuanya siap. Dalam apel yang digelar pagi itu, Danramil 0818/32 Wonosari Kapten Chb Wakit Tohari mengingatkan pentingnya tanggung jawab seluruh personel.

“Seluruh personel harus melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab serta mengedepankan pelayanan kepada masyarakat agar kegiatan berjalan aman dan kondusif,” tegasnya.

Tak lama berselang, kemeriahan langsung terasa. Pentas seni tradisional membuka rangkaian acara. Tari Topeng yang penuh filosofi dan Tari Gunung Kawi yang sarat nilai lokal berhasil menyedot perhatian penonton.

Kemudian, kirab budaya mulai bergerak. Barisan peserta dengan kostum adat Nusantara berjalan perlahan menuju kawasan pesarean. Di sepanjang rute, berbagai atraksi ditampilkan, membuat penonton tak henti-hentinya mengabadikan momen.

Ketua panitia Festival 1 Suro, Muji Santoso, menyebut Grebek Suro bukan sekadar acara tahunan.

“Ini bukan hanya seremoni. Ini momentum untuk refleksi diri sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa tema tahun ini mengandung pesan kuat tentang pentingnya menjaga tradisi sebagai identitas bangsa.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin mempererat persatuan dan memanjatkan doa agar segala hal buruk bisa sirna dan berganti dengan keberkahan,” tambahnya.

Hal serupa disampaikan Kepala Desa Wonosari, Suwito. Menurutnya, 1 Suro punya makna mendalam bagi masyarakat Jawa, khususnya di Gunung Kawi.

“Ini bukan sekadar pergantian tahun, tapi momen introspeksi diri dan memperkuat hubungan sosial antarwarga,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa kirab budaya dan pembakaran Buto Sengkolo adalah bentuk rasa syukur masyarakat.

“Tradisi ini adalah wujud penghormatan kepada leluhur dan harus terus kita jaga keberlangsungannya,” lanjutnya.

Setelah kirab selesai, peserta bergerak menuju pesarean R.M. Imam Soedjono dan Kyai Zakaria II. Suasana berubah menjadi lebih hening. Doa-doa dipanjatkan, harapan disampaikan untuk keselamatan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.

Namun, puncak acara baru benar-benar terasa saat prosesi pembakaran Buto Sengkolo dimulai.

Replika raksasa itu berdiri sebagai simbol berbagai hal buruk—penyakit, marabahaya, dan energi negatif. Ketika api mulai membakar, sorak penonton pecah. Banyak yang mengangkat ponsel, merekam momen yang dianggap paling sakral sekaligus paling menarik.

Camat Wonosari, A.K. Wisnu Aji, menilai tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar tontonan.

“Ini adalah simbol pembersihan diri dari sifat-sifat negatif dan harapan untuk kehidupan yang lebih harmonis dan sejahtera,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga tradisi ini agar tetap lestari.

“Grebek Suro bukan hanya ritual tahunan, tapi bagian dari identitas budaya yang harus kita banggakan,” katanya.

Di balik kemeriahan itu, Grebek Suro juga membawa dampak nyata. Kehadiran ribuan pengunjung menggerakkan ekonomi warga sekitar. Pedagang kecil hingga pelaku usaha lokal ikut merasakan manfaatnya.

Menjelang sore, satu hal menjadi jelas: Grebek Suro bukan sekadar tradisi yang dipertahankan, tapi juga bukti bahwa budaya masih punya tempat kuat di tengah perubahan zaman.

Di Gunung Kawi, tradisi tidak hanya dikenang, ia benar-benar hidup dan terus menyala. (den).