Sinergi Talenta Jadi Kunci Dongkrak Ekonomi Kreatif Jatim ke Pasar Global
Surabaya | JATIMONLINE.NET,- Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai Jawa Timur menyimpan kekuatan besar untuk menjadi lokomotif ekonomi kreatif di tingkat nasional. Hal itu ia sampaikan di sela forum Jatim Media Summit bertajuk Ekosistem Ekonomi Kreatif & Transformasi Beyond Media Jawa Timur di Whiz Luxe Spazio Surabaya, Kamis (30/7/2026).
Menurut Riefky, Jatim tidak lagi hanya bertumpu pada sektor yang selama ini menjadi andalan. Jika kuliner dan kriya sudah mapan, kini sektor lain seperti gim, film, musik, fashion, dan aplikasi digital ikut tumbuh dengan sangat cepat.
Potensi tersebut, kata dia, terlihat jelas dari dinamika industri kreatif yang semakin beragam di daerah. “Kalau kita lihat Jawa Timur itu sudah luar biasa. Mulai dari fashion, kuliner, kriya, sekarang juga berkembang games. Film, musik juga sudah berkembang. Aplikasi juga sudah berkembang,” ujarnya.
Namun, agar pertumbuhan itu naik level dan memberi dampak ekonomi yang lebih luas, Riefky menegaskan kolaborasi menjadi syarat mutlak. Penguatan ekraf tidak bisa dibebankan kepada pemerintah saja, melainkan harus menjadi kerja bersama yang melibatkan semua pihak termasuk peran strategis media. “Tentu perlu kolaborasi kita bersama, tidak hanya pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Tentu perlu didukung oleh teman-teman media,” katanya.
Ia juga melihat banyak potensi local hero dan local brand dari Jatim yang sebenarnya sudah siap untuk go internasional. Kuncinya ada pada penguatan ekosistem dan dukungan promosi yang konsisten agar karya-karya lokal tersebut bisa menembus pasar luar negeri.
Di sisi lain, Riefky mengingatkan dua tantangan utama yang masih harus dikejar. Pertama soal peningkatan kapasitas SDM kreatif, kedua soal masih rendahnya kesadaran pelaku ekraf untuk mencatatkan Hak Kekayaan Intelektual. Padahal, HAKI itu yang akan menentukan nilai komersial sebuah karya di mata perbankan dan investor. “Bagaimana kekayaan intelektual itu bisa dikomersialisasi sehingga mempunyai nilai ekonomi untuk mendapatkan pinjaman bank ataupun investor masuk, itu juga sangat penting. Dan tentu pada akhirnya juga perlindungan terhadap hasil karya,” ujarnya.
Tantangan lain yang disinggung adalah kehadiran kecerdasan buatan. Riefky menyebut AI memang tidak bisa dihindari, namun harus diposisikan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas kreator dan pekerja media, bukan sebagai ancaman yang menggantikan peran manusia. “Tentu tantangan ada, tetapi kita mengharapkannya bagaimana AI itu jangan mengganti para kreator, tetapi menjadi memberikan nilai tambah,” tandasnya. (man).


Tinggalkan Balasan