Viral! KDM Kirim ‘Anak Nakal’ ke Barak Militer, Khofifah: Jangan Stigma Mereka!
Surabaya | JATIMONLINE.NET,- Heboh di media sosial! Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM), kembali jadi sorotan setelah mengunggah konten mengirim sejumlah anak dengan perilaku menyimpang ke barak militer untuk didisiplinkan. Dalam video tersebut, Dedi tampak berbicara tegas kepada anak-anak yang dituding sering tawuran, bolos, atau melawan orang tua.
KDM menyebut bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk pembinaan agar anak-anak tersebut belajar disiplin, tanggung jawab, dan menghormati orang tua. Ia percaya metode ala militer bisa memberikan efek jera dan membentuk karakter. “Kalau orang tua nggak bisa mendidik, biar saya yang bantu lewat jalur kedisiplinan,” ujar Dedi dalam salah satu video yang viral di TikTok dan Instagram.
Namun, kebijakan ini menuai kritik. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, turut angkat suara dan menolak keras penggunaan istilah “anak nakal”. Menurutnya, semua anak lahir dalam kondisi baik, dan pelabelan negatif seperti itu bisa merusak psikologis anak. “Label ‘nakal’ memberi stigma yang membekas seumur hidup,” tegas Khofifah.
Khofifah menekankan pentingnya pendekatan edukatif dan empatik dalam menangani anak dengan perilaku menyimpang. Ia mencontohkan perlunya peran konselor, psikolog anak, dan pendekatan berbasis keluarga ketimbang langsung menghukum secara keras. “Mereka bukan kriminal. Mereka hanya butuh didengarkan dan dipahami,” lanjutnya.
Meski begitu, sebagian masyarakat mendukung langkah Dedi. Di kolom komentar, banyak warganet menyebut KDM sebagai “pahlawan bagi orang tua” karena berani turun langsung mendisiplinkan remaja yang dinilai tak tertangani. Namun, tak sedikit pula yang menganggap pendekatan tersebut terlalu keras dan bisa berdampak negatif secara emosional bagi anak.
Sejumlah psikolog anak menegaskan bahwa metode pembinaan dengan tekanan fisik atau militeristik sebaiknya hanya dijadikan opsi terakhir, bukan yang utama. Anak-anak dengan perilaku menyimpang seharusnya dicek terlebih dahulu latar belakang keluarganya, potensi trauma, hingga situasi sosialnya. “Jangan-jangan mereka butuh kasih sayang, bukan hukuman,” ujar psikolog anak dari Surabaya, Siti Rachmawati.
Fenomena ini mengundang diskusi luas di masyarakat: Apakah pendekatan tegas ala KDM relevan di era sekarang? Ataukah perlu pendekatan yang lebih lembut dan humanis? Yang jelas, anak-anak adalah masa depan bangsa, dan cara kita memperlakukan mereka hari ini akan menentukan siapa mereka kelak. (man).


Tinggalkan Balasan